Jalur Kereta Bandung–Pangandaran. Di tengah geliat reaktivasi jalur-jalur kereta tua di Jawa Barat, jalur kereta Bandung–Pangandaran kembali menjadi sorotan publik. Jalur legendaris yang membentang dari Bandung menuju Banjar dan Pangandaran ini bukan hanya saksi bisu kejayaan kereta api era kolonial, tapi juga menjadi penghubung penting antara Priangan Tengah dan pesisir selatan Jawa Barat.
Kini, pemerintah bersama PT KAI berupaya menghidupkan kembali jalur ini sebagai bagian dari strategi besar mengembangkan transportasi massal yang efisien, ramah lingkungan, dan berdaya saing wisata tinggi.

🏛️ Sejarah Awal Jalur Bandung–Pangandaran
Jalur Bandung–Pangandaran merupakan bagian dari jaringan kereta Bandung–Banjar, yang dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api pemerintah kolonial Belanda.
- 🏗️ Pembangunan dimulai: sekitar akhir abad ke-19 (1890-an)
- 🚆 Jalur dibuka resmi: sekitar awal abad ke-20 (1900–1912)
- 📍 Rute utama: Bandung – Kiaracondong – Cibatu – Tasikmalaya – Ciamis – Banjar
- 🌊 Dari Banjar, terdapat jalur cabang menuju Cijulang–Pangandaran yang dikenal sebagai jalur wisata eksotis selatan Jawa Barat.
Tujuan pembangunan jalur ini:
- Menghubungkan kawasan Priangan Tengah ke pelabuhan dan pesisir selatan, khususnya Pangandaran yang menjadi kawasan penting untuk perikanan dan komoditas ekspor.
- Mengangkut hasil bumi, seperti kopi, teh, dan hasil hutan dari pedalaman Priangan ke pelabuhan selatan.
- Mendukung mobilitas penduduk dan aktivitas perdagangan antar wilayah Bandung, Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, dan Pangandaran.
Jalur ini terkenal dengan keindahan panorama alamnya, terutama di segmen selatan antara Ciamis–Banjar–Cijulang yang melintasi perbukitan, lembah, dan sungai besar seperti Citanduy. Tak heran, pada masa jayanya, kereta wisata ke Pangandaran sangat populer di kalangan warga Belanda maupun pribumi.
🚉 Rangkaian Jalur dan Stasiun Penting
- Stasiun Bandung → Titik awal, pusat perkeretaapian Priangan.
- Stasiun Kiaracondong – Cibatu → Penghubung utama ke jalur selatan.
- Stasiun Tasikmalaya → Salah satu stasiun besar dan aktif hingga kini.
- Stasiun Ciamis – Banjar → Gerbang menuju jalur cabang selatan.
- Stasiun Cijulang (dekat Pangandaran) → Titik akhir jalur cabang menuju pantai selatan, sangat terkenal sebagai tujuan wisata kolonial.
🛑 Masa Penurunan dan Penutupan Jalur
Memasuki dekade 1970–1980-an, fungsi jalur Bandung–Pangandaran mulai menurun. Beberapa faktor penyebabnya antara lain:
- Meningkatnya dominasi angkutan jalan raya (bus dan kendaraan pribadi) di jalur selatan Jawa Barat.
- Menurunnya volume angkutan barang hasil bumi melalui kereta.
- Jalur cabang Banjar–Cijulang (ke Pangandaran) mengalami biaya operasional tinggi karena kondisi geografis yang berat (jembatan panjang, terowongan, dan tebing).
- Beberapa infrastruktur mulai menua dan kurang perawatan.
Akhirnya, jalur Banjar–Cijulang ditutup total pada awal 1980-an, menyusul berhentinya layanan kereta reguler ke Pangandaran. Sementara jalur utama Bandung–Banjar masih aktif untuk KA penumpang dan barang, meski beberapa segmen sempat mengalami pengurangan frekuensi.
🧭 Upaya Reaktivasi dan Studi Jalur
Seiring dengan kebijakan pemerintah pusat untuk mengembangkan transportasi massal berbasis rel, jalur Bandung–Pangandaran masuk dalam daftar prioritas reaktivasi bersama beberapa jalur tua lainnya (Cibatu–Garut, Rancaekek–Tanjungsari, dan Padalarang–Cianjur).
Beberapa langkah strategis yang dilakukan:
- Studi Teknis dan Kelayakan Jalur
Dilakukan untuk mengukur kondisi rel lama, jembatan, dan terowongan di segmen Banjar–Cijulang. Banyak infrastruktur yang masih ada, seperti jembatan panjang Mandasari dan terowongan bersejarah Wilhelmina, meski perlu perkuatan besar. - Pembersihan dan Pemetaan Rel Lama
Banyak segmen tertimbun tanah dan semak, bahkan beberapa bagian sudah menjadi jalan desa. Tim reaktivasi melakukan penelusuran tapak rel lama sebagai dasar perencanaan ulang. - Perencanaan Pengembangan Wisata Rel
Jalur Banjar–Pangandaran dikenal sangat potensial untuk kereta wisata heritage dan alam, sehingga reaktivasi tidak hanya fokus untuk penumpang harian, tetapi juga sektor pariwisata. - Integrasi dengan Jalur Utama dan KA Cepat
Nantinya, penumpang dari Jakarta–Bandung melalui kereta cepat dapat melanjutkan perjalanan dengan KA lokal atau wisata ke arah selatan menuju Pangandaran.
🌿 Manfaat Strategis Reaktivasi Jalur Bandung–Pangandaran
🚆 1. Akses Transportasi ke Pesisir Selatan
Wilayah Pangandaran kini menjadi salah satu destinasi wisata unggulan Jawa Barat. Kehadiran kembali jalur kereta akan memberikan akses cepat dan efisien dari Bandung dan Jakarta, mengurangi kepadatan kendaraan pribadi di jalur selatan.
🧍♂️ 2. Mendorong Ekonomi Daerah
Jalur ini akan menghubungkan sentra ekonomi Priangan (Bandung–Tasik–Ciamis) dengan wilayah wisata dan perikanan selatan, membuka peluang logistik hasil bumi dan laut melalui kereta.
🌄 3. Pengembangan Wisata Kereta
Panorama lembah, jembatan kolonial, dan pantai selatan menjadikan jalur ini cocok untuk kereta wisata eksklusif, seperti tour heritage atau eco-rail tour.
🌱 4. Transportasi Ramah Lingkungan
Dengan meningkatnya kesadaran akan transportasi hijau, kereta menjadi pilihan yang hemat energi, berkapasitas besar, dan rendah emisi.
🚧 Tantangan Reaktivasi
Beberapa tantangan utama dalam aktivasi jalur ini:
- Jembatan dan terowongan lama perlu rekonstruksi besar untuk memenuhi standar keselamatan modern.
- Alih fungsi lahan jalur lama menjadi rumah warga atau jalan, sehingga perlu pembebasan lahan ulang.
- Pendanaan besar, terutama untuk segmen Banjar–Cijulang yang panjang dan kompleks secara geografis.
- Koordinasi dengan sektor pariwisata, agar jalur ini benar-benar menjadi daya tarik baru dan bukan sekadar transportasi alternatif.
📅 Perkembangan Terkini 2025
Hingga 2025, pemerintah telah merampungkan studi kelayakan dan perencanaan teknis awal untuk reaktivasi segmen Banjar–Cijulang (Pangandaran).
- PT KAI dan Kemenhub telah melakukan peninjauan lapangan beberapa kali, termasuk ke jembatan Mandasari dan terowongan tua yang masih berdiri kokoh.
- Jalur Bandung–Banjar saat ini dilalui oleh KA Pangandaran dan KA lokal, sehingga jika jalur ke Pangandaran aktif kembali, integrasinya relatif mudah.
- Reaktivasi tahap awal difokuskan pada segmen Banjar–Cijulang sepanjang ± 80 km, dengan skenario bertahap untuk penumpang wisata terlebih dahulu sebelum layanan reguler.
Pemerintah Jawa Barat juga mendorong jalur ini sebagai koridor strategis ekonomi selatan, mengingat jalur jalan selatan sering macet dan rentan longsor.
PILIHAN PAKET KEGIATAN

Offroad

Outbound

Rafting

Paintball
